new-header2

Monitor Lizard is off the menu

The monitor lizard is a reptile that is categorized as a large lizard. Monitor lizards found in the villages and urban areas in the western part of Indonesia are water monitor lizard (Varanus salvator). The body (from snout to tail) is generally around 1 meter, although some can reach 2.5 meters.

On Thursday, December 31, 2009 just before the end of the year, a JAAN staff member received a report of monitor lizards captured for food in a church at Jatibening, Bekasi.

There were four monitor lizards reported captured but when JAAN got there only one lizard was alive while the others were already killed, the lizard was found tied with barbed wire, ready to be slaughtered.

It took a long time to persuade these people to let the lizard be taken by JAAN’s staff. They initially insisted on selling the lizard to JAAN, which JAAN would not permit because JAAN does not support any form of animal trade.  After a long discussion, they finally agreed to let JAAN take the lizard.

The barbed wire was soon cut off and the monitor lizard was taken to a vet. After a thorough check up to ensure that the lizard was healthy, the lizard was released to its natural habitat.

Monitor Lizards are not protected under the extinction law, therefore thousands of monitor lizards die in slaughter houses.  The population of this exotic animal is getting lower each year due to this exploitation by humanity and alsodue to the loss of habitat.  If the situation remains the same, in a couple more years monitor lizards might face extinction.

There are many ways to help save monitor lizards such as:

  1. Do not take part in destroying the natural habitat of monitor lizards
  2. Do not disturb monitor lizards in the wild
  3. Do not buy or use products made from monitor lizards
  4. Do not take part in monitor lizards trade
  5. You can also spread the information to your friends and collegues.

article in bahasa Indonesia

Biawak adalah bangsa reptil yang termasuk kategori kedalam golongan kadal besar. Biawak yang kerap ditemui di desa – desa dan perkotaan di wilayah Indonesia bagian Barat adalah biawak air ( Varanus salvator ). Jenis ini mempunyai panjang tubuh ( dari moncong sampai ekor ) sekitar 1 meter, meskipun ada pula yang dapat mencapai 2,5 meter.

Pada hari kamis tanggal 31 Desember 2009 tepat sebelum penghunjung akhir tahun staff JAAN menerima laporan dari salah satu supporter JAAN tentang adanya biawak yang ditangkap dan akan dijadikan santapan oleh salah satu rumah ibadah di daerah Jatibening, Bekasi.

Awalnya staff JAAN mendapatkan info bahwa warga menangkap 4 ekor biawak. Tetapi ketika sesampai disana biawak yang masih hidup hanya tersisa 1 ekor biawak dengan badan terikat oleh kawat besi dan sedang siap untuk dipotong.

Melihat hal itu staff JAAN langsung bernegosiasi dengan warga yang menangkap biawak tersebut. Awalnya warga tidak setuju bila biawak itu dibawa dan dilepasliarkan kembali, bahkan diantara mereka meminta imbalan bila ingin membawa biawak ini pergi. Tidak putus asa staff JAAN tetap berusaha berkomunikasi dan akhirnya mereka pun memperbolehkan biawak tersebut dibawa dan dilepasliarkan kembali.

Selesai mendapat izin biawak tersebut boleh dilepas kembali, staff JAAN segera memotong kawat dan tali yang mengikat ditubuh biawak tersebut, kemudian membawa nya ke Klinik untuk memeriksa kondisi kesehatan biawak tersebut.

Setelah diperiksa dan semua kesehatan nya tidak bermasalah, staff JAAN segera mencari daerah dimana masih aman untuk tempat tinggal biawak dan segera melepasliarkan kembali biawak tersebut ke habitat aslinya.

Meski tergolong reptil berbahaya biawak merupakan salah satu binatang buruan favorit para pemburu. Bagi sebagian orang daging nya dipercaya selama ini memang dipercaya, dapat dijadikan alternatif obat untuk berbagai macam penyakit. Yang sampai saat ini belum banyak terbukti untuk  menyembuhkan

Ribuan biawak setiap tahunnya mati dirumah pemotongan, dengan status biawak yang tidak dilindungi oleh hukum serta ditambah belum adanya data yang pasti tentang jumlah populasi biawak di alam semakin memperburuk keadaan ini. Eksploitasi terus-menerus, tentunya akan mempengaruhi keberadaan biawak di alam, sehingga jumlahnya terus menurun dan lagi hilangnya habitat biawak yang dikarenakan oleh pembangunan yang semakin meluas sehingga mempersempit habitat alaminya. Hal ini, akan menambah deretan panjang angka kepunahan satwa di Indonesia jika terus berlanjut
Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk membantu melestarikan biawak :

  1. Tidak merusak habitat dan alam dimana tempat biawak berada.
  2. Tidak mengganggu biawak yang sedang bersarang ataupun yang sedang jalan – jalan.
  3. Jangan pernah menjual, membeli dan memakai produk – produk yang terbuat dari biawak
  4. Selain itu Anda dapat menyebarkan informasi ini kepada orang-orang di sekitar Anda sehingga mereka juga tahu mengenai biawak dan permasalahan di belakangnya.

Leave a Response

You must be logged in to post a comment.